C.O.N.F.E.S.S.I.O.N.S

Help. Open. People's. Minds

Preparing for the worst.

The recent hike in fuel prices will in definite term breed into a chain reaction within our economy. Though 20 sen increase for RON95 and 15 sen increase for RON97 may not seem significant in isolation, in the financial arena, the impact on the supply chain cannot be ignored completely.

And as usual, the government has a way of trying to justify in very little words their reasoning by defending the increase as so called 'subsidy rationalization'.

Najib’s advisers have ignored the fundamentals of rationalization; more so in the highly debated issues surrounding subsidies. They have conveniently (for the benefit of themselves and cronies), thrown out key controversial factors that have caused our nation to face a chronic deficit budget annually, consecutive for the past 14 years.

Corruption, money laundering, nepotism, cronyism, unjustified bail-outs, humongous projects, bad debts from PTPTN and inflated pricing of supplies are being swept under the carpet. Above all these sins, there is the bloated civil service that needs to be maintained though they have not really brought much improvement in dishing out first class service.

Billions have been lost over the years with the seed of evil being planted by our leaders in the 1980’s. Instead of kicking out all the factors that produces rotten and worm filled economy, they have decided to worsen it further with this team of Pemandu who seem to be damn oblivious of the true inflation that has descended upon us; ie the people/rakyat. They have camouflaged it with inflation figures that make no sense to the ordinary people.

The hardest hit due to the fuel hike will be the small and medium industries and further down the stream middle income earners (yup, that is you and me). Though the government may increase the aid to the lower income group; at the end of the day, it is us the middle income earners that suffer most from this cruel inflation cycle, though our cries for help all these while have fallen upon deaf ears. 



Indeed being in the bracket of the middle income has been a bad karma for many as we are often left out from any sort of substantial and sustainable assistance from the government.

Being weighed down by house and car loans, insurance premiums, health care expenses for the elderly and children, clothing, food and other daily expenses, the vast majority are left penniless or even in deficit come end-month. Banks and other financial institutions are of no help to them as their credit worthiness is questionable and in doubt. Thus it is of no surprise many in the younger generation are in deep quandary over their finances.

Usually, the lower part of my article from here onwards would include suggestions and ideas that should be implemented, but knowing the ignorance of this blatant government, I sometimes feel all hope is lost, and there is no need for coming up with solutions. What they need to do is, address the leakages of the nation’s wealth before cutting down subsidies. The incompetence of this 47% PM and his overpaid undeserving financial and economic advisers are being heavily subsidised by the ordinary people. The various schemes and programmes have remained largely academic with not much of an attraction for the people. The government barks at the very first instance when iron hot issues are surfaced before them; but has no hesitation to shove the ordinary ‘rakyat’.

The nation is in desperate need for its wealth rationalisation rather than temporary, sporadic punishment of reduced subsidies. The current fuel price hike will soar into a wave of impending economic backlash for the public. Gradually but surely we will experience a hike in food prices, housing, clothing, medicines and every other essential. There is no exception in the supply chain as fuel is the nucleus of global economy.

We have to further brace ourselves in power tariff hikes from TNB that will spiral into more mayhem for the pockets. The government will either take the economic bull by its horns or concede defeat to their cronies for good, of which in this case, I am damn sure would be the latter part.

Next up is on housing and the price of living in urban areas, stay tuned.


...and prepare for the worst.


-Ariff Alyahya

Tennis, cruel game it is.

So i was watching Djokovic's match last night.... This was my reaction when he missed the final backhand. Wakakaka.. luckily he won.



Hoping to see a Djokovic vs Nadal final. The match is going to be EXPLOSIVE!~




Selamat Hari Raya!

-Ariff Alyahya

Menuju Kecelaruan

Salam.

Pertama sekali saya nak mohon keampunan kepada Allah dan kemaafan daripada kalian sekiranya saya bercakap/menulis pada satu kualiti yang saya sendiri gagal untuk memenuhi.

Fenomena selective prosecution (hukuman terpilih) di negara/dunia ini dah begitu lama berlaku. Daripada tokoh politik kepada rakyat marhaen, dan sekarang saya lebih runsing bila ianya juga dilakukan oleh tokoh agama/mufti. 

Saya lihat begitu banyak isu yang dibesarkan melebihi konteks asal, kalau reguler readers blog ni memang tahu benda ni lah yang saya selalu bising hari-hari. Tapi sejak 5 May lalu semangat hidup saya jatuh beyond redemption. Tapi takpa lah, untuk kali ni.

Sampai ke sahur pun tak sempat kalau nak senaraikan segala isu yang ada, daripada Mesir, ke Israel, ancaman Syiah di Malaysia yang semakin teruk, etc etc. Saya appreciate usaha pelbagai pihak yang cuba untuk memperbaiki keadaan umat Islam sekarang, cumanya, (dan pesanan kepada diri sendiri) saya cuma nak kata, kita jangan jadi peribahasa 'kuman di seberang laut nampak, gajah di depan mata tak nampak'.

 Mufti-Mufti dan Jawatankuasa Fatwa Malaysia. Saya amat terkilan dengan sikap mereka yang hanya bersuara kepada isu yang tak mempengaruhi gaji/checkbook mereka. Jangan salah faham, saya hormati dan hargai ilmu/pandangan mereka dalam banyak bidang, cuma, kita lihat banyak fatwa dan pendapat yang keluar, haramkan itu dan ini seperti perhimpunan rakyat dan sebagainya, tapi kezaliman dan clear-cut penindasan yang dilakukan oleh geng yang membayar mereka gaji, mereka terus membisu diam seribu bahasa seolah-olah Islam benarkan perkara ini.

Sibuk dengan video anjing yang dikatakan 'menghina agama', walhal Menteri Hal Ehwal Agama ambik duit zakat untuk bayar kes guaman sendiri apa hukumnya? Syiah zalim macam Assad kita bising2. Raja Sunni zalim kira halal ke guane?

Saya sedar ancaman Syiah memang real masa ni. Fahaman ekstremis yang penuh dengan dendam dan sejarah mereka semuanya berlumuran darah dengan peperangan, semua negara di Middle East yang jadi kacau sekarang, pertembungan yang berpegangan Syiah yang menghalalkan pembunuhan orang yang tak sealiran dengan mereka. Nak cerita tentang kesesatan Syiah ni panjang, balik kepada topic.

Crime rate yang makin teruk, orang kena tembak sana sini, perhimpunan aman kena tindakan undang-undang, dan soalannya, mana pendirian orang agama dalam ini semua? 

Taknak mengaku Malaysia negara sekular out of guilt kepada Allah ke apa?





Nabi bersabda: “Orang yang awal dibicarakan pada Hari Kiamat seorang yang mati syahid. Dia dibawa memperkenalkan diri. Allah bertanya: “Apakah yang telah engkau lakukan di dunia?” Dia menjawab: “Aku telah berperang keranaMU sehingga syahid”.
Allah berkata: “Engkau bohong, sebaliknya engkau berperang supaya engkau dikatakan berani, dan itu telah pun dikatakan padamu”. Lalu diperintahkan agar dia dihukum, diheret wajahnya sehingga dihumbankan ke dalam neraka.
Datang pula seorang yang lain yang mempelajari ilmu, mengajarnya dan membaca al-Quran. Dia dibawa memperkenalkan diri. Allah bertanya: “Apakah yang telah engkau lakukan di dunia?” Dia menjawab: “Aku telah mempelajari ilmu, mengajarnya dan membaca al-Quran keranaMU”.
Allah berkata: “Engkau bohong, sebaliknya engkau belajar ilmu supaya engkau dikatakan alim dan engkau baca al-Quran supaya engkau dipanggil qari. Itu telah pun dikatakan padamu”. Lalu diperintahkan agar dia dihukum, diheret wajahnya sehingga dihumbankan ke dalam neraka.
Datang pula seorang yang Allah luaskan rezekinya dan telah diberikan pelbagai jenis harta. Dia dibawa memperkenalkan diri. Allah bertanya: “Apakah yang telah engkau lakukan di dunia? Dia menjawab: “Aku tidak tinggal satu jalan pun yang Engkau suka untuk didermakan melainkan aku telah pun menderma padanya keranaMU”.
Allah berkata: “Engkau bohong, sebaliknya engkau lakukan supaya engkau dikatakan pemurah, dan itu telah pun dikatakan padamu”. Lalu diperintahkan agar dia dihukum, diheret wajah sehingga dihumbankan ke dalam neraka. (riwayat Muslim).
Saya selalu terfikir, siapakah yang hendak membela nasib rakyat marhaen yang semakin terhimpit dari hari ke hari, negara kaya raya tetapi dirompak oleh syaitan. Yang berkuasa sibuk memunggah kekayaan negara untuk dirompak secara adil dan saksama atas nama kontrak, melayu dan kroni. Bangsawan pula sekadar menjadi boneka saja.  

Sedang di sana terdapat agamawan dengan segala macam lulusan sibuk memikirkan kedudukan dan perut mereka, fatwa dijual beli setiap hari, makin haram, makin kafir fatwa yang dikeluarkan makin tinggi kedudukannya.

Akhirnya tinggallah rakyat dalam kebuntuan yang putus asa kepada segalanya. Kepada siapa yang hendak diharapkan lagi? Tanda-tanda negara yang tiada keberkatan ialah rakyatnya sentiasa berada di dalam ketakutan. Orang kaya takut kepada perompak, si miskin takut kepada yang kaya, penjenayah takut kepada polis (penguasa), polis takut kepada pemimpin, pemimpin takut kepada (kuasa) rakyat. 

Akhirnya tiada siapa lagi yang takut kepada Allah.
Kerana tiada siapa lagi yang amanah.

wallahualam.

-Ariff Alyahya

It is capitalism, not democracy, that the Arab world needs most


To watch events in Egypt is like seeing a videotape of the Arab Spring being played backwards. The ballot box has been kicked away, the constitution torn up, the military has announced the name of a puppet president – and crowds assemble in Tahrir Square to go wild with joy. The Saudi Arabian monarchy, which was so nervous two years ago, has telegrammed its congratulations to Cairo’s generals. To the delight of autocrats everywhere, Egypt’s brief experiment with democracy seems to have ended in embarrassing failure.

Normally, Western leaders would be lining up to deplore a coup d’etat, but yesterday even William Hague seemed lost for words. As a rule of thumb, he says, Britain prefers civilian rule. But when asked to condemn the Cairo coup, he declined. The Arab world’s Twitter accounts, once full of revolutionary optimism, have turned into a depository of despair. “Egypt has taught me that democracy is a lie and an elected president is a myth,” wrote Ahmed al-Husseini, a Sunni preacher from Bahrain. “No parliament, no elections, no ballot boxes. All lies.”

He has a point. Egypt’s election turned out to be like an Irish EU referendum: voters could give any answer they liked, as long as it was the right one. The army didn’t like how things were going, so it has asked voters to choose again. While the West was celebrating Egypt joining the comity of democratic nations, Egyptians themselves were sliding into an economic abyss, with terrifying shortages of fuel, food and security. Sectarian violence has been thrown into the mix, with persecution of the Coptic Christians followed by Sunni v Shia strife. The murder rate trebled. Things were falling apart, which is why the generals were welcomed back.

But the Arab Spring was a demand for freedom, not necessarily democracy – and the distinction between the two is crucial. Take, for example, the case of Mohammed Bouazizi, who started this chain of events by burning himself alive on a Tunisian street market two years ago. As his family attest, he had no interest in politics. The freedom he wanted was the right to buy and sell, and to build his business without having to pay bribes to the police or fear having his goods confiscated at random. If he was a martyr to anything, it was to capitalism.

All this has been established by Hernando de Soto, a Peruvian economist who travelled to Egypt to investigate the causes of the Arab Spring. His team of researchers found that Bouazizi had inspired 60 similar cases of self-immolation, including five in Egypt, almost all of which had been overlooked by the press. The narrative of a 1989-style revolution in hope of regime change seemed so compelling to foreigners that there was little appetite for further explanation. But de Soto’s team tracked down those who survived their suicide attempts, and the bereaved families. Time and again, they found the same story: this was a protest for the basic freedom to own and acquire ras el mel, or capital.

Bouazizi killed himself after police confiscated all his fruit and a pair of second-hand electronic scales. This was all he had. He was a gifted trader; he had hoped to save enough money to buy a car and grow his business. On the face of it, losing some fruit and a £100 pair of scales seems like an odd basis for suicide. But having made enemies of the police, Bouazizi realised he would not be allowed to trade again. His family say he felt his life had ended and that, if he died for any cause, it should be that the poor should be able to buy and sell.

For most of the developing world, no such right exists. In theory, everyone is protected by law. But in practice, the process of acquiring a legal licence is so riddled with bribery and bureaucracy that only a small minority can afford to go through with it. To de Soto, this explains much of world poverty. Step out of the door of the Nile Hilton, he says, and you are not leaving behind the world of internet, ice machines and antibiotics. The poor have access to all of these things if they really want it. What you are leaving behind is the world of legally enforceable transactions of property rights. These traders do not really break the law – the law breaks them.

Take Fadoua Laroui, a Moroccan mother, whose suicide was filmed. She explained her reasons before setting herself alight. “I am going to immolate myself,” she said. “I am doing this to protest against hogra and economic exclusion.” Hogra means contempt towards small traders, the contempt which Bouazizi was shown by the police. A similar story was told by the survivors, and the relatives of the deceased. As Bouazizi’s brother explained to de Soto: “People like Mohammed are concerned with doing business. They don’t understand anything about politics.”

Technically, the law covers everyone. But under Hosni Mubarak, for example, opening a small bakery in Cairo took more than 500 days of bureaucracy. To open a business in Egypt means dealing with 29 government agencies. The same story is true throughout the region: the average Arab needs to present four dozen documents and endure two years of red tape to become the legal owner of land or business. If you don’t have the time or money for this, you are condemned to life in the black market: no matter how good you are, you will never trade your way out of poverty. Arabs are so angry about this that they are burning themselves alive.

William Hague said yesterday that Egyptians want the freedom to express their views and choose their governments. Stability, he said, “comes from democratic institutions”. Yet there has been depressingly little evidence of this stability in democratic Egypt – as the Saudis are gleefully pointing out. This sets a terrible example to other fledgling democracies: that if things get tough, the army can eject the government and start again. Whoever follows Mohammed Morsi as president will know that, in effect, he serves at the pleasure of the military.

A few weeks ago, de Soto told the US Congress that the West has fundamentally misread the Arab Spring and is missing a massive opportunity. Bouazizi, and the five Egyptians who self-immolated, spoke for 380 million Arabs who lack property rights or any legal protection. This applies to Britain: if we were to become champions of these people, and demand the extension of property rights in return for our foreign aid, it could be the most effective anti-poverty strategy ever devised. And it might make us millions of new friends in the Arab world.

This is not a new idea, but the revival of an old one. As Margaret Thatcher once put it, “being democratic is not enough – a majority cannot turn what is wrong into right”. Freedom, she said, depends on the strength of the institutions: law and order, a free press, the police and an army that serves the government rather than supervises it. History is proving her right – in Russia, Afghanistan, Iraq and now in Egypt. The fa├žade of democracy can be horribly deceptive; it is the strength of institutions that decides if nations rise or fall.

- Taken from The Telegraph, written by Fraser Nelson (author of The Spectator)

Hutang Negara Part 2


Di bahagian pertama artikel tentang hutang negara sebelum ini saya menerangkan kepada kawan-kawan tentang apa itu hutang awam, bagaimana kerajaan meminjam dan trend hutang kerajaan Malaysia sejak tahun 90-an. Sesebuah negara berhutang bukanlah perkara yang asing atau tidak normal. Hampir keseluruhan negara didunia meminjam wang melalui hutang (bon) sama ada untuk menampung perbelanjaan tahunan kerajaaan atau untuk membuat pelaburan. Hutang mana-mana kerajaan yang tinggi berbanding KDNK negara tidak semestinya melambangkan negara tersebut berada dalam keadaan terhimpit atau akan mengalami kebankrapan. 
HUTANG AWAM NEGARA TERPILIH SETAKAT 2011

Harus diketahui bahawa perbandingan hutang kerajaan Malaysia dengan mana-mana negara adalah kerja yang tidak bijak. Tidak semestinya sebuah negara itu berhutang tinggi mereka tidak mengurus ekonomi dengan baik juga sebaliknya, tidak semestinya negara yang mempunyai hutang kerajaan yang rendah ekonomi mereka diurus dengan baik. Perbandingan hutang kerajaan Malaysia dengan hutang kerajaan negara lain kebiasaannya tidak mengambil kira berapa KDNK mereka, kekuatan ekonomi mereka, populasi negara dan sebagainya. Walaupun hutang kerajaan Singapura tinggi dan melebihi 100% berbanding KDNK mereka tidak menggunakan hutang yang diterbitkan untuk menampung perbelanjaan negara. Hutang (bon) di Singapura digunakan untuk pelaburan oleh syarikat milik kerajaan Singapura seperti Temasek dan juga agensi wang pencen pekerja Singapura CPF (seperti KWSP di Malaysia): 

PERBELANJAAN LEBIHAN KERAJAAN SINGAPURA *KECUALI 2010
Lihat jadual diatas bagaimana kerajaan Singapura mempunyai perbelanjaan lebihan (hasil>perbelanjaan) tiap-tiap tahun kecuali tahun 2010  bagaimanakah hutang kerajaan Singapura berada pada paras 106% daripada KDNK jika belanjawan mencatat lebihan? Berbanding Malaysia yang berhutang untuk menanmpung perbelanjaan, Singapura berhutang untuk menampung permintaan pelaburan oleh CPF dan pelabur asing.

Krisis ekonomi Eropah

Pada tahun 2007 ekonomi global melanda kemelesetan terburuk dalam sejarah peradaban moden. Krisis ekonomi ini berpunca dari krisis di USA akibat masalah pinjaman subprima yang seterusnya memberi kesan kepada ekonomi di Eropah. Kesan kemelesetan ekonomi USA menggugat keyakinan para pelabur terhadap kekuatan ekonomi negara-negara di Eropah. Sebelum krisis ekonomi global pada tahun 2007-2008 kebanyakan negara di Eropah mempunyai hutang kerajaan pada paras yang tinggi iaitu 60%-90% berbanding KDNK. Ia dianggap normal kerana ekonomi di Eropah sebelum krisis adalah rancak dan pesat: 


HUTANG DI NEGARA EROPAH SEJAK TAHUN 95

Selepas 2008 keyakinan pelabur termasuk peminjam bon (hutang) kerajaan di negara-negara Eropah seperti Greece, Portugal, Spain, Ireland menurun mendadak. Akibatnya kebanyakan peminjam bercadang untuk menebus hutang kerajaan negara-negara (memohon bayaran balik hutang) ini menjadikan kadar faedah (interest rate) untuk bon yang diterbitkan meningkat secara mendadak lalu menjadikan kos untuk membayar kadar faedah bon semakin tinggi dan ia menambah beban kewangan kerajaan negara-negara tersebut. 

Kita sering melihat bagaimana sesetengah pihak membandingkan masalah hutang di Greece, Spain, Ireland dan sebagainya. Tidak dinafikan paras hutang yang tinggi di negara tersebut menyumbang kepada krisis ekonomi yang berlaku sekarang walaubagaimanapun berbeza dengan Malaysia, negara-negara tersebut tidak mempunyai kuasa penuh terhadap sistem kewangan negara mereka. Sistem satu matawang (uni-currency) Euro yang digunapakai kebanyakan negara di Eropah menyebabkan mereka tidak boleh mengawal bekalan wang (money supply) atau bahasa mudahnya tidak dapat mencetak wang mereka sendiri. Matawang Euro dikawal oleh satu agensi pusat iaitu European Central Bank (ECB) yang diseliakawal bersama oleh semua negara yang menggunakan matawang Euro. Ini menjadikan krisis di Greece semakin buruk dan paras hutang mereka semakin meningkat kerana mereka tidak dapat mengawal bekalan wang untuk negara mereka sendiri. ECB juga berperanan mengawal kadar faedah yang sangat penting sebagai mekanisme untuk menangani kelembapan ekonomi.

Berbanding di Malaysia, negara kita mempunyai Bank Negara Malaysia yang mempunyai kebebasan untuk mengawal bekalan wang, kadar faedah seterusnya boleh bertindakbalas terhadap kelembapan ekonomi luaran dan dalaman. Jadi untuk menggambarkan bahawa Malaysia bakal menjadi seperti Greece, Spain atau Ireland adalah tidak sesuai sama sekali kerana struktur ekonomi dan kewangan kita yang berbeza dengan mereka.

Realiti Hutang Negara


Hutang negara dikatakan berada pada paras kritikal kerana hampir mencecah had siling  hutang negara iaitu 55% daripada KDNK negara. Akta Pinjaman Tempatan (1959) mengehadkan hutang negara pada had siling 55% walaubagaimanpun ia boleh dipinda bila-bila masa jika mendapat sokongan majoriti di parlimen. Ini bermakna had hutang negara bukanlah suatu tanda aras samada paras hutang kerajaan itu berada di paras bahaya atau tidak.




Walaubagaimanapun ini bukanlah alasan untuk kerajaan berhutang dengan sewenang-wenangnya. Rakyat seperti kita berhak tahu apa tujuan kerajaan meminjam dengan banyak dan kemana pergi wang yang dipinjam itu. Saya seringkali memberitahu kawan-kawan bahawa isu yang paling UTAMA yang patut ditumpukan oleh kita semua adalah apa yang dibelanjakan oleh kerajaan, apa hasil kerajaan berhutang dan sebagainya. Berhutang untuk pembangunan negara itu dibenarkan tapi benarkah wang pinjaman benar-benar disalurkan untuk pembangunan yang akan membawa faedah kepada negara dan rakyat?

Laporan Ketua Audit Negara melaporkan pelbagai jenis pembaziran atas nama projek pembangunan, belian aset kerajaan dan sebagainya. Disamping itu kerajaan juga seringkali terlebih belanja daripada jumlah belanjawan yang diperuntukkan. Rujuk Laporan Ketua Audit Negara 2011: 
HAMPIR RM20bil TERLEBIH BELANJA PADA TAHUN 2011

Jadi mengapakah kerajaan persekutuan meminjam dan berhutang sedangkan tiap-tiap tahun berlaku pembaziran sehingga menyebabkan kerajaan sentiasa berbelanja melebihi daripada jumlah wang yang diperuntukkan. Contoh-contoh pembaziran yang dilaporkan Laporan Ketua Audit Negara: 
PROJEK JALAN BERNILAI RATUS JUTAAN RINGGIT TENAT

PERUNTUKAN KEPADA UNIVERSITI TAPI PROJEK TAK DILAKSANA

PROJEK BERNILAI JUTAAN RINGGIT DENGAN TENDER TERHAD ATAU RUNDINGAN TERUS

Diatas adalah contoh-contoh pembaziran kerajaan persekutuan seperti projek pembangunan yang sakit, pemberian tender terhad dan tidak terbuka dan sebagainya. Banyak lagi pembaziran yang dilakukan oleh kerajaan persekutuan yang mana nilai yang dibazirkan ini boleh mencecah puluhan billion setiap tahun jadi kenapa kerajaan perlu meminjam dan berhutang? Anda juga boleh melihat senarai pembaziran kerajaan negeri dibawah BN di: Audit MelakaAudit JohorAudit Sabah dan Audit Sarawak

Setiap tahun perbelanjaan kerajaan persekutuan untuk membayar faedah keatas hutang kerajaan adalah semakin meningkat dan hampir mencecah RM20bil setiap tahun. Rujuk laporan ketua audit negara dibawah: 

Oleh sebab hutang yang semakin meningkat kerajaan terpaksa menanggung bayaran faedah tahunan yang semakin tinggi. Jika segala kebocoran dan ketirisan dapat dielakkan, sudah tentu kerajaan tidak perlu meminjam dengan lebih banyak malah kerajaan boleh mula membayar hutang-hutang dengan lebih awal seterusnya mengurangkan jumlah hutang negara.

Kerajaan persekutuan sering berdolak dalih tentang bahawa kerajaan perlu berjimat dan selalunya yang akan dikorbankan adalah subsidi kepada rakyat. Apabila ingin berjimat pertama yang akan dipotong adalah subsidi kepada rakyat. Kerajaan tidak pernah berbicara tentang pembaziran puluhan billion tiap-tiap tahun dan bagaimana kerajaan seringkali terlebih belanja (overspent). Akhirnya rakyat juga yang menjadi mangsa akibat pemotongan subsidi. Hutang kerajaan terus juga meningkat saban tahun. 

Projek gagal sepeti PKFZ, NFC, bail-out kepada Perwaja, MAS yang melibatkan billion-billion ringgit menyumbang kepada kenaikan perbelanjaan kerajaan. Kesudahannya rakyat (pembayar cukai) juga yang terpaksa menanggung bebanan perbelanjaan dan hutang akibat projek-projek mega yang gagal dan 'projek' bail-out kroni.


Kesimpulan

Di bahagian pertama artikel tentang hutang negara saya menerangkan apa itu hutang kerajaan dan bagaimana kerajaan meminjam dan berhutang. Di bahagian artikel ini saya menerangkan perbezaan krisis hutang di Eropah seperti Greece, Spain dan Ireland dan juga pembaziran kerajaan persekutuan dalam mengurus perbendaharaan negara. Objektif atau fokus utama kita sebagai rakyat haruslah tertumpu kepada BAGAIMANA kerajaan membelanjakan wang negara dan KE MANA  wang itu dibelanjakan. Segala pembaziran, kebocoran dan ketirisan ini menyumbang kepada kenaikan pinjaman dan hutang kerajaan setiap tahun. 

Memang paras hutang kerajaan berbanding KDNK masih lagi pada paras yang selesa walaubagaimanapun kerajaan tidak harus terus berbelanja sewenang-wenangnya apatah lagi membazir  wang dengan menanggung hutang kroni. Rakyat mahukan kerajaan yang telus memberi tender projek secara terbuka kepada kontraktor yang benar-benar layak dan bukan kontraktor rakan-rakan atau kroni terdekat. Hutang kerajaan boleh diturunkan sekiranya setiap wang kerajaan dibelanja dengan berhemah dan bernilai untuk setiap ringgit.

Kebobrokan Barisan Nasional sebagai kerajaan selama lebih 50 tahun membazir ratusan billion tiap-tiap tahun haruslah ditentang oleh semua rakyat Malaysia. Dalam tempoh 5 tahun seterusnya kita tidak tahu projek mega apa pula yang akan dijalankan kerajaan dan berapa pula perbelanjaan dan hutangnya nanti. Ingat, hutang negara bukan hal utama, yang PALING penting bagaimana wang negara dibelanjakan kerajaan.

-Ariff Alyahya

Hutang Negara Part 1


Hutang negara adalah salah satu topik hangat yang menjadi bualan sejak dua tiga tahun kebelakangan ini. Selain daripada pakar ekonomi dan tokoh akademik, perihal tentang hutang negara ini juga menjadi buah mulut rakyat biasa terutamanya di dalam ruangan media sosial. Isu hutang negara dijadikan isu politik dan sosial apabila ada segelintir daripada kita yang risau tentang paras hutang negara yang dikatakan berada pada paras kritikal. 

Kebanyakan pemahaman tentang hutang negara dikalangan masyarakat dibentuk oleh fahaman politik. Ada yang mengatakan hutang negara membebankan dan ada yang mengatakan hutang negara adalah mampan dan sihat. Sebelum kita membuat kesimpulan tentang hutang negara itu elok juga kita faham apa itu sebenarnya hutang negara. 

Apa itu hutang negara?

Hutang negara yang dibincangkan di sini adalah lebih tepat merujuk kepada hutang awam (public debt) atau hutang kerajaan (government debt). Kedua-duanya adalah sama hutang awam=hutang kerajaan. Manakala hutang seisi rumah (household debt), hutang sektor swasta (private debt) adalah dua perkara lain dan berbeza dan tidak termasuk didalam kategori hutang awam yang tidak akan dibincangkan disini.

Hutang awam adalah hutang oleh kerajaan persekutuan kepada semua pemberi hutang. Kebanyakan negara berhutang untuk menampung perbelanjaan kerajaan pada tahun tertentu. Kerajaan setiap tahun akan mengutip cukai dan menerima hasil yang dipanggil pendapatan kerajaan. Setiap tahun juga kerajaan akan membelanjakan wang yang terbahagi kepada dua kategori perbelanjaan iaitu perbelanjaan mengurus (operating expenditure) dan juga perbelanjaan pembangunan (development expenditure). Setiap tahun Menteri Kewangan akan membentang belanjawan tahunan (bajet/budget) di parlimen untuk menerangkan berapa hasil kutipan kerajaan dan juga berapa perbelanjaan kerajaan untuk tempoh tahun tersebut.

HASIL KERAJAAN PERSEKUTUAN


Apabila pada suatu tempoh tahun tersebut hasil kerajaan yang dikutip melebihi perbelanjaan kerajaan, keadaan ini dipanggil sebagai belanjawan lebihan (surplus budget). Apabila hasil kerajaan kurang daripada perbelanjaan kerajaan ia dipanggil sebagai belanjawan defisit (deficit budget) dan jika hasil kerajaan pada tahun tertentu itu sama dengan perbelanjaan kerajaan ia dipanggil belanjawan berimbang (balanced budget). 

DEFISIT KERAJAAN PERSEKUTUAN (PERBELANJAAN TOLAK HASIL)


Jadi anda semua perlu membezakan defisit dengan hutang awam kerana defisit itu bukan hutang. Defisit adalah kekurangan dana atau terlebih belanja didalam belanjawan tahunan. Defisit ini yang menyebabkan kerajaan terpaksa berhutang untuk menampung perbelanjaan yang lebih daripada hasil yang dikutip kerajaan. Ingat defisit dan hutang itu adalah dua perkara yang berbeza.

Hutang negara dikira dalam jumlah berapa Ringgit Malaysia dan juga dikira berbanding jumlah Keluaran Dalam Negara Kasar (KDNK) atau Gross Domestic Product (GDP). [KDNK secara ringkasnya bermaksud saiz ekonomi negara]. 



Bagaimana kerajaan berhutang?

Kerajaan berhutang dengan menerbitkan bon (sejenis instrumen hutang) kepada awam seperti bank, KWSP, KWAP dan juga orang ramai. Bon ini adalah kertas sebagai janji dimana pada tempoh masa tertentu kerajaan akan membayar balik wang (principal) yang dipinjam setelah habis tempoh matang (maturity date) bon dan kerajaan juga akan membayar sejumlah wang faedah (interest) mengikut kadar yang telah ditetapkan didalam bon tersebut. Contohnya: 

  1. Kerajaan Malaysia melalui Perbendaharaan Negara (treasury) menerbitkan bon sebanyak RM1,000,000 kepada awam untuk tempoh masa 10 tahun dengan kadar faedah 3% setiap tahun.
  2. Pelabur yang melanggan bon (meminjamkan duit kepada kerajaan) akan menerima faedah 3% atau RM30,000 setiap tahun daripada kerajaan untuk tempoh masa 10 tahun.
  3. Setelah tempoh 10 tahun iaitu tempoh matang bon itu tamat, kerajaan akan memulangkan RM1,000,000 prinsipal atau wang pelanggan bon tersebut.
Hutang awam atau bon ini kebanyakannya diterbitkan oleh kerajaan didalam negeri bermakna hutang awam dipegang oleh pelabur didalam negeri. Kerajaan juga ada meminjam wang daripada luar negara dengan menerbitkan bon daripada peminjam/pelabur luar. Hutang ini dipanggil sebagai hutang luar (external debt). 

Dibawah Akta Pinjaman Luar Negeri 1963 parlimen menetapkan had siling pinjaman luar negara pada RM30bil sahaja: 
Oleh sebab itu kebanyakan hutang kerajaan dipinjam daripada dalam negeri dan dalam Ringgit Malaysia. Rujuk: 

PINJAMAN DALAM DAN LUAR NEGERI
Gambarajah dari Laporan Ketua Audit Negara diatas menunjukkan jumlah pinjaman dalam negeri dan juga luar negeri yang dipinjam oleh kerajaan persekutuan setiap tahun. Jumlah hutang luar negeri adalah pada kadar yang minima dan masih dibawah daripada paras siling yang ditetapkan perlembagaan negara.

Trend hutang kerajaan

Pada awal tahun 90 an kerajaan dibawah Menteri Kewangan Dato Sri Anwar Ibrahim pada masa itu memacu ekonomi negara yang berkembang pesat. Dalam pada masa yang sama trend hutang kerajaan menurun dari awal 90an pada paras 80% berbanding KDNK  sehinggalah  tahun 1997 pada paras 32%: 


Krisis ekonomi asia tenggara pada tahun 1997 menyaksikan hutang kerajaan meningkat secara konsisten kerana kerajaan terpaksa berbelanja lebih untuk merancakkan kelembapan ekonomi tempatan dan trend hutang awam kembali meningkat dari serendah 32% (tahun 1997) sehinggalah pada paras lebih 50% pada tahun 2011. 

Artikel ini akan bersambung kemudian. 
-Ariff Alyahya. 
VOTE ONLINE PRU13:
"Setujukah anda DSAI dilantik Perdana Menteri Malaysia ke 7?" Jika setuju sila klik vote "Like" di bawah.